
VIVA-BOLA, Persisam Samarinda (Persisam) terancam tidak bisa mengikuti kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim mendatang. Pasalnya, niatan mendapat dana rakyat, akan terhenti akibat Permendagri No 22 Tahun 2011 tentang Penghentian Aliran Dana dari APBD bagi klub sepak bola profesional.
"Bukan hanya Persisam, tetapi saya yakin banyak klub di Indonesia yang kemungkinan akan bubar jika Permendagri tentang penghentian APBD bagi klub sepak bola itu diberlakukan tahun depan," kata Ketua DPRD Samarinda, Siswadi usai dialog terbuka "Persisam Terancam Gulung Tikar" dengan subtema "Klub Sepak Bola Masih Bergantung APBD", kemarin.
Selain menghadirkan Ketua DPRD Samarinda sebagai pembicara diskusi terbuka yang digagas Lembaga Informasi Publik (LIP) Kaltim, juga menyoroti masalah sosial dan kebijakan publik, juga menghadirkan Manajemen Persisam Putra Samarinda, KONI, Pusamania serta pengamat sepak bola Kaltim.
"Semestinya, penghentian APBD bagi klub sepak bola itu dilakukan secara bertahap. Misalnya, tahun depan (2012) alokasi APBD 75 persen dari alokasi yang diberikan sebelumnya kemudian tahun berikutnya (2013) hanya 50 persen dan tahun ketiga sisa 25 persen kemudian pada 2014 sudah tidak ada lagi klub yang menerima dana dari APBD," kata Siswadi dilansir Antara.
Pola itu, kata Siswadi, akan memberi kesempatan kepada klub untuk mempersiapkan diri. Jika langsung diberlakukan, dirinya yakin hanya ada beberapa klub saja yang bisa eksis dan sebagian besar terancam bubar. Namun ia menyadari, sebagai warga negara yang patuh, semua pihak harus menaati Permendagri tersebut.
"Kami (DPRD) tidak bisa berbuat apa-apa sebab itu sudah menjadi peraturan. Namun, masih ada waktu sekitar enam bulan memikirkan upaya untuk menyelamatkan Persisam agar tetap bisa eksis berlaga pada kompetisi LSI musim depan," katanya.
Ia mengibaratkan Persisam saat ini sebagai orang yang sedang sakit parah, sehingga harus segera diselamatkan.
"Jadi, yang harus dilakukan manajemen Persisam adalah berinisiatif melakukan upaya lobi kepada pemerintah maupun pihak swasta termasuk DPRD untuk menyelamatkan klub kebanggaan warga Samarinda ini," papar Siswadi.
Pengamat sepak bola Kaltim, Amir P Ali mengatakan, manajemen Persisam harus melakukan berbagai terobosan dengan membuat unit-unit usaha untuk pendanaan kesebelasan tersebut.
"Saya pernah berkunjung di salah satu kota kecil di Italia dan menginap di salah satu hotel, dan ternyata hotel itu milik klub sepak bola setempat. Bahkan setelah saya telusuri banyak unit usaha lainnya yang dilakukan pihak manajemen untuk menghidupi klub tersebut tanpa bergantung pada bantuan pemerintah mereka," katanya.
Menurut dia, pola ini harus dilakukan Persisam apalagi di Samarinda masih terbuka luas usaha yang bisa dilakukan sebagai sumber pendanaan klub. Termasuk, meminta partisipasi 64 pengusaha tambang batu bara di Samarinda, ujar Amir P Ali yang juga mantan Ketua KNPI Kaltim tersebut.


