
VIVA-BOLA, Sepak bola Italia masih sulit terbebas dari campur tangan para mafia. Setelah skandal suap yang melibatkan Paolo Rossi pada akhir 1970-an, kemudian disusul kasus calciopoli yang terbongkar pada 2006, kini muncul kasus pengaturan skor dan judi atau scommessopoli.
Dibandingkan dengan skandal calciopoli yang terungkap lima tahun silam, skandal scommessopoli memang tak terlalu heboh dalam pemberitaan. Pasalnya, para aktor yang terlibat dalam skandal itu mayoritas membidik laga-laga di level bawah.
Sementara itu, di level atas atau Serie A baru dua laga yang dicurigai sarat permainan. Yakni, laga Inter Milan versus Lecce di Giuseppe Meazza pada 20 Maret lalu serta duel Brescia kontra Bologna di Mario Rigamonti (2/4).
Karena lebih sering bermain di level bawah, banyak yang menyebut bahwa modus operandi scommessopoli lebih rapi daripada calciopoli. Satu lagi yang membedakan skandal baru ini dengan calciopoli adalah para aktor yang terlibat. Jika calciopoli melibatkan banyak petinggi klub dan wasit, scommessopoli dikendalikan oleh para mantan pemain.
Salah satunya Giuseppe Signori. Namun, Signori untuk sementara bisa menghirup udara bebas setelah penyidik menyatakan berkas pemeriksaan dia sudah cukup.
Mencuatnya skandal scommessopoli itu sekaligus mengingatkan publik pada skandal totonero yang terjadi pada akhir 1970-an. Saat itu sejumlah pemain dari lima klub Serie A, yakni AC Milan, Lazio, Perugia, Bologna, dan Avellino (Serie A), serta dua klub Serie B Taranto dan Palermo, terlibat pengaturan skor untuk kepentingan perjudian pada beberapa laga.
Salah satu tokoh penting yang terlibat dalam skandal totonero adalah Paolo Rossi. Dia akhirnya dijatuhi hukuman tiga tahun larangan aktif di sepak bola, tetapi akhirnya direduksi menjadi dua tahun dan berkesempatan membela Italia di Piala Dunia 1982. Rossi akhirnya menjadi pahlawan kemenangan Italia di even empat tahunan itu. Modus memang hampir sama.
Namun, karena saat ini perjudian di sepak bola sudah dilegalkan dengan aturan-aturan tertentu, pasti ada celah yang bisa dimanfaatkan para mafia untuk mendapatkan keuntungan. Nah, kelompok tertentu yang ditengarai bisa mengatur sejumlah pertandingan itulah yang kini mulai diberangus aparat penegak hukum Italia.
Berdasar kabar yang dilansir ANSA, skandal scommessopoli itu mulai ditelusuri pada November tahun lalu. Kepolisian Cremona menyelidiki sepuluh lokasi berbeda. Seluruhnya dimulai dari investigasi laga Serie C antara Cremonese dan Paganese. Menurut Roberto di Martino, jaksa wilayah Cremona, ada kecurigaan bahwa minuman para pemain Cremonese diberi obat tidur sebelum bertanding.
”Itu awalnya. Kemudian, kami terus mengembangkan penyelidikan,” ungkap Di Martino.
Ternyata, hasilnya mengejutkan. Berdasar pengembangan penyelidikan, diketahui bahwa terdapat sejumlah pertandingan yang mencurigakan. Dugaan sementara, sejumlah pertandingan itu sudah diatur oleh mafia judi dari Bologna.
Yang mengejutkan, yang terlibat bukan hanya klub di level bawah. Sejumlah klub papan atas Serie A dikaitkan. AS Roma dan Fiorentina disebut-sebut terlibat. Namun, tuduhan itu langsung dibantah petinggi dua klub.
”Roma adalah klub yang serius. Saya benar-benar kesal dan kecewa dengan apa yang saya baca di surat kabar,” cetus Rosella Sensi, presiden Roma, seperti dikutip Goal.
Laga Roma yang dicurigai adalah menghadapi Genoa pada 20 Februari lalu. Ketika itu Giallorossi –julukan Roma– yang sudah unggul 3-0 malah kalah 3-4 oleh Genoa. Selain itu, laga Fiorentina versus Roma (2-2), Lecce versus Cagliari (3-3), dan Genoa kontra Lecce (4-2) jadi perhatian.
Kabarnya, Marco Pirani –seorang dokter gigi di Sirolo, Ancona– disebut-sebut sebagai otak di balik mafia pengaturan skor. Sekarang dia masih ditahan kepolisian Cremona dan diperiksa jaksa Di Martino yang bertugas pada kasus itu. Kabarnya pula, kasus tersebut terus menggelinding dan banyak yang dicurigai terlibat di dalamnya.
Namun, penyelidikan masih terus dilakukan dan belum diketahui akan sampai mana kasus itu. Apakah hanya berdampak pada klub-klub level bawah atau sampai ke Serie A. (ham/c10/bas)


