
VIVA-BOLA, London tidak pelak menjadi kota sepak bola di Eropa. Sederetan klub Liga Primer Inggris seperti Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan Fulham bermarkas di London. Empat tim ini bermarkas di ibu kota Inggris tersebut. Sayangnya West Ham United sudah karam ke Divisi Championship.
Beruntung Queens Park Rangers kembali promosi setelah nyaris hilang selama belasan tahun berkompetisi di Championship dan League One. Namun QPR kembali meramaikan ingar bingar derby London.
Sebenarnya banyak tim yang bermarkas di London tetapi kemudian turun kasta ke divisi bawah. Meski begitu toh lima klub sudah membuat Liga Primer ramai dengan perseteruan dari ibu kota.
Real Madrid dan Atletico Madrid tidak lagi sendirian dalam beberapa musim terakhir. Rayo Vallecano dan Getafe juga menjadi klub yang menjadi wakil dari ibu kota Spanyol.
Kekuatan Real dan Atletico tentu masih jauh hebat bila dibandingkan dengan Rayo Vallecano dan Getafe yang culun. Tetapi setidaknya La Liga Primera Spanyol diramaikan oleh empat tim dari ibu kota.
Seri A Italia juga mempunyai dua tim yang bermarkas di ibu kota. Lazio dan AS Roma memiliki home base di kota yang didirikan oleh Remus dan Romulus itu. Dua tim saling bermusuhan juga sepertinya halnya tim-tim sekota di liga mana pun di seluruh dunia.
Liga Primeira Portugal diwakili oleh Benfica dan Sporting de Lisbon yang memiliki kandang di ibu kota. Dua tim ini menjadi klub yang paling sukses di Portugal, selain juga Porto.
Ajax Amsterdam menjadi klub Liga Eredivisie Belanda yang bermarkas di ibu kota negara. Catat ibukota negeri yang menjajah Indonesia ini memang Amsterdam, sementara kota pemerintahannya memang The Hague di mana ADO Den Haag bermarkas.
Paris Saint-Germain adalah tim Ligue 1 Prancis yang bermarkas di ibu kota Paris. Tidak ada derby Paris di Liga Prancis. Pesaing PSG justru datang dari kota-kota lain.
Jerman malah apes. Tiada klub yang mewakili ibu kota Berlin. Hertha Berlin baru promosi pada akhir musim 2010/2011. Setidaknya musim depan ada tim dari ibu kota yang berlaga di Bundesliga Jerman.
Yang paling gokil tentu saja Liga Super Turki. Ibu kota Istanbul diwakili sejumlah tim besar seperti Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas. Ini belum menghitung tim medioker macam Istanbul Buyuksehir Belediye Spor Kulubu dan Kasimpasa Spor Kulubu.
Meski London punya banyak klub sepak bola, tetapi aksi kekerasan di Istanbul lebih sangar ketimbang London. Permusuhan klub sudah bukan sekedar rivalitas di lapangan belaka, tetapi sudah dibumbui hal lain seperti politik.
Juni 2011 ini, ibu kota tercinta Jakarta berulang-tahun yang ke-484, tentu tidak salah juga kalau membayangkan Jakarta menjadi kota sepak bola. Ya, bisa jadi bukan hanya Persija saja yang mewakili Jakarta di Liga Super Indonesia.
Persitara alias Persija Jakarta Utara sudah turun kasta ke Divisi I. Persijatim alias Persija Jakarta Timur malah lebih tragis. Tim ini malah hengkang ke Solo dan sempat bermarkas di kota yang terletak di Jawa Tengah itu pada awal 2000-an. Tidak terbayangkan kalau ada banyak orang Betawi di Solo, kalo seandainya Persijatim didukung masyarakat Jakarta.
Malah Persijatim malah kemudian menjelma menjadi Sriwijaya FC yang ber-home base di Palembang, Sumatera Selatan. Ya, memang ada sih Batavia Union dan Jakarta Union 1928. Dua klub ini berlaga di Liga Primer Indonesia yang sampai saat ini belum diakui FIFA. Ini beda aliran tentunya dengan Liga Super Indonesia.
"Bos mabok es teler ya ? Gimana mo ada banyak tim bola di Jakarta ! Semua jadi mall, plaza, bos ! Inget nggak stadion Menteng malah jadi taman. Sebentar lagi stadion Lebak Bulus nyusul tuh. Mendingan masih ada stadion Soemantri Brodjonegoro di Kuningan sono. Sama Gelora Bung Karno juga!" tutur Si Bosil Usil nyentil si Bos.
Ah, itu dia sih si Bos lupa. Mana ada lapangan tersisa di Jakarta. Stadion sepak bola berubah bentuk jadi bangunan komersial. Lapangan atau tanah kosong jadi perumahan, plaza, mal, ruko, dan lainnya.
Bermimpi ada banyak tim sepak bola dari Jakarta ? Wah, lapangan bola tidak ada. Klub juga tidak berkembang kalo nggak ada subsidi pemerintah ! Perubahan masih lama, sama waktunya menunggu Lebaran Onta, apalagi belum ada ketua PSSI sampe sekarang.
"Tapi bos, tenang aja. Jakarta udah jadi kota sepak bola. Ini beneran loh," ujar Si Bosil Usil nyodorin kerak telor yang dibeli di Jakarta Fair. Tumben nih anak buah punya duit buat traktir kerak telor.
"Beneran ?" tanya Si Bos berpikir tidak mau kalah. Mosok bos kalah sih. Pan seperti dibilang kemaren sih. Tentu Si Bos tidak boleh kalah, tidak boleh salah. Pasal satu, bos tidak boleh kalah dan salah. Pasal dua, kalau bos kalah dan salah, kembali ke pasal satu !
"Bener bos. Jakarta itu kota sepak bola. Buktinya di setiap pojokan ada akademi PlayStation. Daripada keringetan main bola di jalanan terus disamber mobil atau motor, mendingan olahraga tangan doang sambil bayangin jadi Lionel Messi atau Cristiano Ronaldon !" jawab Si Bosil Usil ngeloyor pergi.
Skak mat. Mati lu ! Si Bos tepok jidat, untung nggak keselek kerak telor ! (dodiek adyttya dwiwanto)


