
VIVA-BOLA, Sebulan yang lalu, 58 ribu pendukung River Plate berkumpul di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti. Di luar venue bersejarah itu, puluhan ribu orang memenuhi jalanan Buenos Aires. Mereka berkumpul khusus untuk merayakan pesta ulang tahun Los Millonarios, yang ke-110. Beragam parade menjadi hiburan tersendiri, plus kedatangan beberapa eks bintang klub di masa lalu.
Diantara yang hadir datang dari generasi Oscar Alberto Ortiz, Mario Kempes, Claudio Caniggia yang datang jauh dari Spanyol, Abel Balbo, Sergio Berti, Marcelo Salas, Julio Cruz sampai Marcello Gallardo. Selain pesta, rombongan para pemain legendaris klub berkumpul bersama skuad terkini arahan pelatih Juan José López, berdoa agar mereka bisa lolos dari posisi degradasi.
Sayang, usaha terakhir tersebut tidak berujung hasil maksimal. River Plate, tim raksasa yang mengoleksi 33 kali gelar juara Argentina, harus terdegradasi ke Primera B Nacional. Klub dengan seragam khas selempangnya ini harus rela turun kasta setelah hanya mampu meraih hasil imbang 1-1, di leg 2 babak playoff, kontra Belgrano di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti, kemarin. El Millo kalah agregat 1-3, estelah pada leg 1, takluk 2-0.
Pada pertarungan dinihari kemarin, tuan rumah yang harus mencetak dua gol atau lebih, punya harapan besar setelah unggul cepat pada menit ke-5, melalui sepakan keras kaki kanan striker Mariano Pavone. Terus menekan, mereka malah kecolongan melalui aksi gelandang Belgrano, Guillermo Farré pada menit ke-62.
Semenit kemudian, River Playe mendapat hadiah penalti. Sayang, kali ini Mariano Pavone harus menjadi pesakitan dan incaran kekesalan suporter. Pasalnya, sepakannya tepat berada dalam pelukan kiper lawan, Juan Carlos Olave. Di waktu sisa, Max Pereira, Carlos Arano, Erik Lamela, dkk, gagal menambah gol.
Usai pertandingan, amarah pendukung River Plate tak terhindarkan lagi. Mereka merusak stadion, bangku pemain dan berbuat anarkis di luar stadion dan sepanjang jalan Buenos Aires. Pihak kepolisian setempat mengerahkan lebih dari 2 ribu personel untuk menghalau kerusuhan. Pelatih Juan José López langsung dipecat.
Turunnya River Playe ke Primera B Nacional, memberi efek sejarah luar biasa. Maklum, bagi dunia sepakbola Argentina, nama klub ini begitu besar. Selain 33 kali juara Argentina, mereka juga menjadi satu tim pertama asal negeri Tango, yang berhasil juara Continental Cup tahun 1986 atawa Piala Toyota, setelah mengandaskan perlawanan juara Liga Champions Steaua Bucuresti 1-0, melalui gol striker Antonio Alzamendi.
River Plate juga menjadi gudang pencipta pemain legendaris Argentina dan dunia seperti Nery Pumpido, Oscar Ruggeri, Claudio Caniggia, Enzo Francéscoli, kiper Sergio Goycochea, Abel Balbo, Roberto Ayala, Matías Almeyda, Ariel Ortega, Marcelo Gallardo, Hernán Crespo sampai dua pemain yang kini tengah menjadi buruan klub-klub raksasa Eropa, Radamel Falcao dan Alexis Sanchez.
“Ini momen yang sangat buruk bagi kami. Sesuatu yang sangat tidak bisa dipercaya oleh manajemen dan suporter. Kami tak layak di Primera B, ini jelas sangat mengecewakan. Kami berjanji akan segera bangkit tahun depan, dan kembali habitat kami yang sesungguhnya, Primera A. Kami minta maaf kepada seluruh penggemar, tim sudah berbuat maksimal. Manajemen akan segera berbenah dan menyiapkan tim hebat untuk tahun depan,” kata Daniel Passarella, Presiden River Plate.


